Berbincang dengan si Kelinci #34

“Beritahu aku Hati, mengapa kamu memintaku ke sana?”

Kelinci putih itu hanya memandang pemiliknya dengan tersenyum. Ia memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah tidak tahu apa-apa padahal dia tahu. Kumisnya yang putih tipis bergerak-gerak. Sorot mata hitam penuh harap menatap tajam-tajam agar keinginannya diikuti.

Manusia setengah kupu-kupu itu menghela nafas panjang. Ia tahu si kelinci tidak akan menjawabnya dengan cara yang ia suka. Selalu saja penuh misteri, selalu saja tidak pernah sekarang, selalu sajat menuntut kesabaran. Itulah Hati si Kelinci Putih, familiar miliknya yang berharga. Ia sudah ada sejak manusia itu lahir. Gadis itu menatap kesal si Kelinci.

“Apa sih susahnya berbicara balik? Aku tahu kamu bisa bicara tapi memilih untuk tidak melakukannya,” kata sang manusia sambil menahan diri untuk tidak menarik kedua pipi Hati yang memanggil untuk dicubit itu.
“Hah sudahlah, seperti biasa aku akan mengikutimu tanpa terburu-buru. Susah hidupku kalau tidak mengikutimu. Kamu akan loncat ke sana kemari, mengacak-ngacak rambutku, melempar buku-bukuku kemana-mana, berisik saat aku tidur. Sungguh kelakuanmu itu membuatku lelah. Kamu tahu kan masalah apa yang akan kita hadapi karena kita pergi ke sana?” Sang Gadis bertanya sambil mengerutkan dahi ke arah Kelinci yang tampak tidak peduli dengan omelan gadis itu.

Kaki kecilnya menepak-nepak tanah, menyuruh gadis itu untuk segera bergegas. Telinganya naik ke atas ke bawah karena ia loncat-loncat penuh dengan semangat, sambil menunggu sang Gadis untuk berdiri dan mengikuti dirinya.

Gadis itu berdiri, menggerakan sayapnya sedikit karena pegal, kemudian sambil mulai jalan ia berkata”Susah memang berkata tidak pada, Hati.”

 

Story behind story

Jadi, saya benar-benar kesulitan menulis cerpen kurang dari 1000 kata ini.  Saya bahkn tidak tahu apakah saya bisa menyebut ini sebagai cerpen.  Saya menulis cerpen ini di hari Senin saat jam makan siang selama 5 menit plus-plus.

Recommend  Ada Darah - 90 Days Writing & Drawing Challenge #32

Tahun lalu saya mencoba untuk melakukan tantangan 90 hari menulis dan menggambar.  Hingga saat ini, hari ini saya bahkan belum menyelesaikannya.  Entah mengapa saya menunda-nunda.

Mungkin sama seperti penulis/seniman yang lain, saya menghadapi resistance (lupa bahasa Indonesianya apa), yang membuatku membenci sendiri.  Sebuah dorongan yang memaksa saya untuk tidak menulis, untuk tidak berbuat apa-apa.

Saya tidak mampu menikmati waktu istirahat.  Lebih tepatnya saya merasa cemas setiap kali saya menghibur diri seperti menonton, membaca komik atau internetan.

Hari ini saya memutuskan untuk menulis tentang hati yang mendorong saya untuk menulis.  Otak saya tidak mampu menemukan manfaat dari menulis untuk diri saya sendiri.  Namun, saya masih menulis untuk memuaskan si Hati, jadi dia bisa berhenti mengganggu saya.  Oleh karena itu tulisan 5 menit ini ada.

Sepertinya cerita dibalik cerpen ini bahkan lebih panjang dari cerpen itu sendiri.

Si Hati memberitahu saya alasan untuk menulis :

“Untuk membantu orang-orang menikmati hidup mereka, waktu mereka.  Seni adalah sebuah cara untuk mencapai kebahagiaan itu.  Manusia itu lemah dan gelap, tapi mereka mampu berpijar kadang-kadang.  Pijar yang memancing hatimu untuk tersenyum.  Namun, di saat manusia sedang tidak mampu berpijar, Hati berpikir mungkin tulisan saya bisa membuat mereka merasa tidak terlalu gelap.”

Aku tidak tahu apakah hal itu mungkin, biarlah mereka yang merasakannya sendiri.

Spread the love

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *