Burung Hantu yang Suka Terbang Kesana Kemari

Saat si Tikus melihat ke atas, si burung hantu melihat dia lagi. Si burung hantu yang sering terbang tanpa arah. Berputar-putar, berbelok, sayapnya menembus angin dengan santai.

Bulunya coklat, campuran coklat muda, coklat sedang dan coklat tua. Matanya hitam galak tapi kadang-kadang terlihat kosong. Kenapa si Tikus memperhatikan dia? Tentunya karena dia adalah musuh bebuyutan, predator yang suka makan tikus lucu seperti diriku. Adalah hal yang wajar jika si Tikus waspada.

Apalagi badanku kecil, hitam, dan kakiku pendek. Meskipun si Tikus mampu berlari dengan kencang, tidak ada salahnya mengawasi pergerakan musuh dengan seksama. Ada yang bilang lebih baik aman daripada menyesal.

Kadang kalau diri ini tahu apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak melakukannya, diri ini merasa kecewa. Dan hal ini membuatku merasa stres. Belum ditambah stres karena burung itu.

Jadi kupandangi dia sudah setengah jam berbelok-belok tidak jelas selama 15 menit. Sayapnya mengepak perlahan. Dia berencana mendarat dekat sini.

Jantung kecilku berdegup kencang. Apakah ia berniat memakanku. Tapi si Tikus tidak melihat Burung Hantu memandang ke arahnya. Mungkin hanya kebetulan saja dia terbang ke arah sini.

Pada kenyataannya si Tikus tidak pernah melihat si burung gendut ini, yang katanya jenis paling pintar sekerajaan burung, memangsa teman-temannya atau keluarganya, atau dirinya sendiri.

Di satu sisi si Tikus penasaran kenapa dia terbang tidak jelas, tidak seperti burung hantu yang lain. Apa yang sebenarnya dipikirkannya?

Kaki mungilku berlari kencang, membawa tubuhku bersembunyi dibalik semak-semak di dekat batu yang cukup besar. Dari dekat batu si Tikus bisa si burung hantu mendarat dan tidur-tiduran sambil melebarkan sayapnya. Ia berkata “Deuuh aku lupa, tadi aku lewat sini mau ngapain ya? Kayaknya ini udah berkali-kali terjadi akhir-akhir ini.”

“Ah benar, aku mau mengantar pesan ke temannya temanku. Dia pasti khawatir kalau temannya tidak mendapat pesan dengan cepat. Kali ini aku harus ingat, mau kemana aku terbang”.

Si Burung Hantu pun terbang lagi, hampir salah belok mau ke rumah. Untungnya dia sadar dan kembali ke jalur yang seharusnya.

Dalam seminggu 6 kali si Tikus melihat kejadian yang sama. Entah dia lupa bawa barang, lupa nama penerima, lupa mau ngapain. Seolah-olah pikirannya kosong. Apa isinya terlalu banyak jadi tidak hal-hal lain yang muat masuk otaknya.

Recommend  Fabel Elang Berhati Lembut dan Anak Gajah

Saat si Tikus memperhatikan dia, si Tikus menyadari bahwa si Burung Hantu gampang bengong. Matanya kosong. Wajahnya layu dan selalu terlihat mengantuk.

Situasi ini mengingatkan si Tikus pada kata-kata ayahnya. Ia selalu bilang agar si Tikus fokus pada masa sekarang. Caranya adalah dengan menanyakan diri sendiri, lubang hidup sebelah mana yang menarik nafas lebih banyak?

Saat orang berusaha menjawab pertanyaan ini, ia akan fokus pada pernafasannya. Dan jika dilakukan selama 10 kali, otak kita akan semakin sehat setiap harinya.

Si Tikus ingin meninggalkan metode ini untuk si Burung Hantu. Bukannya dia peduli pada si Burung Hantu, tapi agar dia tidak terus-menerus mendarat di daerahku. Perasaan cemas melanda setiap hari karena takut akan dimakan si Burung Hantu atau tidak.

Si Burung Hantu merasa kesal dengan dirinya yang tidak konsisten. Ia berharap bisa lebih disiplin dan fokus. Tapi apa daya baru 1 menit fokus, ada banyak pikiran lain yang datang menyerbu , sehingga dia lupa apa yang harus ia kerjakan saat itu.

Si Tikus menulis di sebuah kertas daun dan menggantungkannya di tempat yang dapat dilihat oleh si Burung Hantu.

Daun warna merah dengan tulisan kecil-kecil. Si Burung Hantu menatap surat dari si Tikus dengan hati senang walau ia tidak mengerti apa yang dikatakannya.

Setelah ia baca beberapa kali, ia baru paham bahwa tulisan di atas daun itu ingin membantunya untuk lebih fokus saat terbang.

Si Burung Hantu menerima saran itu dengan bahagia. Sejak saat itu, si Burung Hantu bisa lebih fokus dalam menjalankan tugasnya. Dan ia merasa lebih baik tentang dirinya sendiri.

Namun ada 1 hal yang tidak sesuai harapan si Tikus. Si Burung Hantu tetap sering mendarat di daerah kekuasaan si Tikus. Tapi bukan untuk memakan si Tikus seperti yang sudah ia prediksi.

Ia selalu menaruh daun tulisan di tempat yang sama dengan tempat si Tikus menaruh daun berisi saran. Mata burung bermuka galak itu selalu berbinar karena ia mendapat jawaban dari tulisannya.

Sejak saat itulah dimulai pertemanan antara Si Burung Hantu dan Si Tikus. Kekhawatiran bahwa si Tikus akan dimakan tidak terjadi. Karena si Burung Hantu selalu kenyang. Ia selalu mendapat makanan dari pemiliknya sebelum berpergian kesana kemari.

Spread the love

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *