menunda-procrastination-cinmu-drawing

Caraku Menghadapi Perasaan Menunda-nunda Pekerjaan

Rasanya Menunda-nunda Pekerjaan

Kamu merasa ada begitu banyak hal yang harus dikerjakan dari mencuci baju, mandi, mengerjakan tugas sekolah atau bisnis atau kantor, mengatur uang, olah raga dan memberikan kepedulian kepada orang yang selama ini kamu abaikan padahal ingin kamu pedulikan. Mungkin sebenarnya jika kamu mengatur waktu dengan baik dan benar-benar mengerjakan semua hal itu sesuai jadwal, segala sesuatunya akan selesai dengan baik. Tapi tidak, kamu memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa dan memilih untuk membuka hape, menelusuri berbagai konten dari berbagai aplikasi social media, berita, komik dan website-website informatif. Saat kamu melakukan semua itu, waktu berjalan terus dan saat kamu menyadarinya sudah beberapa jam berlalu. Pada akhirnya kamu merasa lelah dan tidak melakukan apapun hari itu sehingga memutuskan untuk tidur saja.

Apakah kamu pernah mengalaminya? Aku pernah, setiap hari, selama bertahun-tahun sampai hari ini. Hal ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan dan aku membenci diriku sendiri karena hal itu. Aku iri pada para founder, artis, idol, komikus, bapak penjual gorengan, wirausahawan, pelajar-pelajar berbakat bahkan para politikus yang benar-benar ingin membuat Indonesia menjadi negara yang lebih baik. Mereka istirahat sedikit, berusaha mengatur waktu sebaik mungkin, memutar keras otak, menghadapi orang-orang menyebalkan, berkarya, gagal dan berusaha lagi. Aku yang tidak seperti itu, membenci diriku sendiri. Kenapa aku tidak seperti itu? Mungkin aku ini adalah seorang pemalas sejati.

Begitulah yang kupikirkan tanpa tahu bahwa kalimat itu adalah kebohongan yang kupercayai dan membuatku menjadi orang yang tidak aku inginkan.

Semua ini Bermula dari Keyakinanku terhadap Diriku Sendiri

Manusia cenderung hidup dalam kesengsaraan daripada mengakui bahwa dirinya salah. Apa yang ia percayai adalah kebenaran baginya. Bagaimana aku tahu bahwa tetangga rumahku benar-benar manusia? Apakah aku harus membedah tubuhnya dan kepalanya, lalu memastikan bahwa dia memiliki organ tubuh yang sama dengan manusia? Tentu tidak, aku hanya perlu percaya bahwa dia adalah manusia. Sampai terbukti sebaliknya.

Pertanyaan pentingnya adalah apakah aku mau membuktikan kebenaran dari keyakinan-keyakinanku? Kita tidak membicarakan agama di sini. Namun keyakinan seperti :
aku adalah orang yang…
aku tidak bisa…
aku selalu saja …
tidak ada satupun yang bisa berubah walaupun kita melakukan sesuatu …
mereka itu buruk …
itu semua salah mereka …
aku menderita begini karena dia
baginya aku ini hanya …

Keyakinan-keyakinan seperti itu, terutama keyakinan yang negatif, apakah aku pernah berusaha untuk membuktikannya. Ada orang yang tidak mau membuktikannya karena itu berarti ia harus berusaha dan menghadapi berbagai kekecewaan. Daripada sakit karena berusaha lebih baik tidak melakukan apa-apa. Namun, ada juga yang berusaha mempertanyakan keyakinannya itu.

Aku adalah orang yang kedua karena takut kalau aku terus-terusan menjadi orang yang pertama aku bisa gila. Menyimpan keyakinan negatif, mengatakan hal-hal buruk kepada diri sendiri, membayangkan imajinasi gelap tentang masa depan itu seperti menghujam diri dengan jarum-jarum bahkan pisau. Sakitnya seperti memaksa berjalan dengan sepatu kekecilan, bahkan lebih dari itu. Aku memiliki harapan untuk membuktikan bahwa keyakinan buruk tentang diriku itu salah. Rasanya sulit dan tidak menyenangkan tapi itu penting jadi aku berusaha.

Lalu bagaimana aku melakukan pembuktian tersebut? Aku membaca artikel-artikel psikologi, menonton video-video motivasi dan berdiskusi dengan orang-orang terdekatku mengenai hal ini. Namun hal yang paling membantu memahami diri sendiri adalah psikologi. Berikut ini adalah beberapa hal yang paling mengena untukku.

Ketidakberdayaan karena Segala Sesuatunya Sia-sia Belaka

Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Martin Seligman dan Steven Maier di akhir periode 1960 dan awal 1970. Penelitian ini adalah tentang helplessness atau ketidakberdayaan yang diakibatkan oleh rasa sakit yang terus menerus baik secara fisik maupun emosi. Sebagai peringatan, penelitian ini bukanlah penelitian yang baik dari sisi etika tapi kita bisa mempelajari sesuatu dari hal ini.
Jadi mereka meletakan anjing-anjing dalam sebuah kotak yang dipisahkan menjadi dua ruangan oleh sebuah pembatas rendah. Lantai satu sisi sebagian bermuatan listrik. Penemuan dari penelitian ini adalah :

  1.  Anjing-anjing yang sebelumnya telah disetrum terus-terusan dengan frekuensi yang tak terduga tanpa diberi kesempatan untuk kabur (artinya mereka sama sekali tidak dapat kabur), tidak melakukan apapun untuk menghindari listrik dan hanya duduk diam menerima sengatan listrik, sama sekali tidak berusaha untuk meloncat melewati pembatas rendah ke ruangan lain.
  2. Anjing-anjing yang tidak disetrum dengan cepat langsung melompat melewati pagar untuk menghindari sengatan listrik.
Recommend  Mengapa manusia butuh fashion?

Kesimpulan Seligman adalah para anjing itu berada pada stage ketidakberdayaan. Mereka mengalami peristiwa dimana ketika sakit datang terus menerus dan melakukan apa-apa menghasilkan kesia-siaan. Dari peristiwa itu mereka belajar untuk lebih baik menerima sakit terus menerus dan menolak untuk berusaha menghindari sakti karena segala sesuatu tidak ada artinya.

Apakah aku seperti ini? Bisa jadi, aku melakukan banyak hal tanpa mendapatkan hasil yang kudambakan. Mungkin karena itu orang bilang jangan menyerah, ayo terus berusaha, jangan patah semangat, kamu pasti bisa. Seandainya aku langsung bersemangat begitu mendengar semuanya itu, sekarang pasti aku sudah jadi orang kaya nan makmur sekarang. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana bisa bangkit kembali? Sebelum itu apakah ini satu-satunya alasan untuk menunda pekerjaan?

Alasan lainnya adalah aku tidak terbiasa disiplin. Disiplin adalah kemampuanmu mengontrol diri, melakukan hal baik secara rutin. Kata disiplin memiliki gambaran yang buruk di kepala orang-orang, termasuk kepalaku juga. Ia seperti mengikatmu, membatasimu sehingga kamu tidak bebas melakukan apapun. Namun, sebaliknya disiplin membebaskanmu. Ia membantumu melakukan hal-hal yang kamu sukai sambil memastikan semua tanggung jawabmu selesai. Sebaliknya menunda-nunda memenjarakanmu dalam pikiran negatiff terhadap diri sendiri karena kamu tidak melakukan apa-apa.

Kupikir penyebab terakhir dari menunda-nunda adalah mungkin aku sendiri sebenarnya tidak mau berubah. Aku nyaman dengan hidupku yang sekarang. Aku tidak keberatan hidup dalam kondisi saat ini. Tidak ada masalah yang begitu urgent hingga membuatku harus merubah caraku menjalani hidup. Mungkin aku tidak benar-benar ingin mendapatkan apa yang aku ingin. Aku cukup puas hanya berimajinasi tentang keinginanku saja.

Solusi Menghadapi Sikap Menunda-nunda

Setelah kita mengetahui penyebabnya,tentu menemukan solusi menjadi hal yang mudah. Jalan keluar dari kondisi ini adalah berusaha yakin sekali lagi kalau apa yang kulakukan itu berguna walau aku belum memahami apa gunanya, membuang pergi keyakinan kalau aku adalah pemalas yang tidak punya masa depan, melatih diri untuk menjadi disiplin.

Aku selalu memiliki pikiran bahwa segala sesuatu itu tidak ada gunanya jadi lebih baik menyerah saja dan tidak perlu berbuat apa-apa. Hal ini adalah hal yang sangat mudah dilakukan.
Apa gunanya bangun pagi? Tidur 15 menit lagi tidaklah menjadi masalah. Apa gunanya olah raga setiap hari, aku tidak merasa sakit. Apa gunanya mencatat keuangan harian, selama ini keuanganku pas dan tidak ada masalah. Kenapa hidup ini harus begitu serius, nikmati saja tanpa banyak pusing.

Pikiran-pikiran seperti ini di kepala lah yang membuat pusing. Jadi aku membuat pertanyaan balasan untuk pikiran-pikiran negative itu.

Apa manfaatnya tidur lebih lama jika pada akhirnya kamu harus lembur karena banyak kerjaan yang menumpuk? Apa gunanya tidur 15 menit lagi jika kamu tidur tidak tenang karena dihantui pekerjaan yang menanti?

Kenapa tidak? Kenapa tidak olah raga? Toh itu hanya 20 menit morning workout yang akan membuatmu merasa lebih segar tiap hari. Ingat perasaan bangga terhadap diri sendiri setiap kali selesai olah raga.

Apa manfaatnya mengabaikan keuanganmu? Kamu bekerja begitu keras mengumpulkannya, tidakkah kamu mau tahu kemana saja dia pergi? Apakah kamu bisa berkembang kalau mengabaikan keuanganmu?
Mengubah keyakinan akan diri sendiri dan menumbuhkan keinginan kuat untuk berkembang merupakan pekerjaan yang cukup melelahkan karena kamu harus berdiskusi terus menerus dengan dirimu sendiri. Perubahan adalah keputusan yang dilakukan oleh otak sadar. Sedangkan keyakinan adalah sesuatu yang tersimpan di otak bawah sadar. Oleh karena itu , hal ini menjadi sulit.

Bukan berarti tidak bisa, kita hanya perlu konsisten mengunjungi otak bawah sadar dan meyakinkan dia bahwa perubahan yang kita putuskan itu merupakan hal yang baik untuk kita. Seperti batu yang berlubang jika ditetesi air, kita juga harus sekonsisten itu untuk mengubah keyakinan buruk kita terhadap diri sendiri. Banyak terjadi keyakinan itu sudah tertanam sejak kita masih kecil, hal itu tentu tidak bisa begitu saja hilang hanya dalam 1 hari berusaha.

Di sinilah letak kedisiplinan berperan. Kalau keyakinan negative itu layaknya lemak dalam tubuh. Mungkin aku ini orang yang obesitas. Aku perlu olah raga mental yang baik untuk meluruhkan “lemak-lemak” membandel ini. Sedikit demi sedikit, dengan kedisiplinan, aku pikir suatu hari nanti aku bisa berubah menjadi orang yang aku inginkan dan aku bisa tersenyum bangga terhadap diriku sendiri.

Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga kesulitan memotivasi diri untuk jadi rajin?

Referensi : Learned Helplessness and Greed

Spread the love

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *